Rabu, 10 Februari 2016

Jalan-jalan ke Bukit Siguntang


Beberapa waktu yang lalu aku sedang menyusun sebuah tulisan sastra Melayu. Salah satu bahannya adalah buku "Hang Tuah" yang susah sekali mencari pustakanya. Namun akhirnya aku mendapatkan juga sebuah buku yang judulnya adalah "Hang Tuah".

Tapi ketika di baca di dalamnya hanya sedikit sekali cerita tentang kehidupan Hang Tuah. Cerita besarnya justru tentang sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang Raja yang merupakan putra dari Raja Langit. Negeri ini berada di Bukit Siguntang. 

Sejak saat itu aku berniat untuk pergi ke sana. Melihat secara langsung bekas-bekas kejayaan Negeri yang tertua di tanah Melayu ini. Namun sayangnya beberapa kali aku ke Palembang, tapi belum sekalipun menginjakkan kaki di sana. 

Pertama karena kedatanganku ke Palembang memang untuk urusan pekerjaan, jadi waktu untuk jalan-jalan sangat terbatas. Kedua karena Bukit Sgutang ini memang tidak setenar "Jembatan Ampera" maupun "Benteng Kuto Besak" juga "Empek-empek". 

Jadi tidak heran kalau ketika datang ke Palembang maka aku hanya sempat menikmati indahnya Jembatan Ampera dan sungai Musi di malam hari. Juga berfoto di Benteng Kuto Besak sebentar. Selebihnya adalah memuaskan perut dengan wisata kuliner empek. 

Bukit Siguntang ini berada di kota Palembang tepatnya di kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I Palembang. Bukit yang dianggap sakral ini berada pada ketinggian 29-30 meter di atas permukaan laut. Salah satu alasan orang berkunjung ke Bukit Siguntang adalah untuk berziarah ke makam bangsawan kerajaan di Palembang. 



Makam raja-raja ini berada di dalam rumah-rumah kecil dan dianggap sakral. Beberapa raja-raja Melayu - Sriwijaya yang dimakamkan di Bukit Siguntang ini diantaranya adalah : 

1. Raja Segentar Alam 
Beliau bernama asli Iskandar Zulkarnain Alamsyah. Seorang bangsawan dari kerajaan Mataram yang berhasil menaklukan hampir seluruh kerajaan di Pulau Sumatera bahkan hingga Johor dan Malaka di Malaysia. 

2. Putri Kembang Dadar 
Karena kecantikannya dikenal juga sebagai Putri Bunga Melur yang dianggap berasal dari kahyangan. Putri Kembang Dadar bisa diartikan sebagai Putri yang dimuliakan. 

3. Putri Rambut Selako. 
Konon kabarnya sang putri berasal dari keraton Yogyakarta adan bernama asli Damar Kencana Wungsu.  

4. Pangeran Radja Batu Api 
Beliau dikenal sebagai pengelana yang menyiarkan agama islam di tanah Melayu. 

5. Panglima Bagus Kuning
Dia adalah pengawal Raja Segentar Alam dari Mataram

6. Panglima Bagus Karang 
Teman Panglima Bagus Kuning yang juga merupakan pengawal Raja Segentar Alam dari Mataram. 

7. Panglima Tuan Djundjungan 
Seorang ulama dari Arab yang menyebarkan agama Islam di tanah Melayu.  


Konon nama Bukit Siguntang ini tertulis dalam kitab-kitab Sejarah Raja-raja Melayu. Dalam kitab yang ditulis di Perlis, Malaysia disebutkan tentang sebuah daerah bernama Palembang yang berada di Muara Sungai Tatang. Di bagian hulu Sungai Tatang ini terdapat Sungai Melayu yang di dekatnya menjulang bukit bernama Bukit Siguntang.

Sejak abad ke-7 Sriwijaya sudah menjadi tempat beribadah penganut Budha. Jadi kawasan Bukit Siguntang kini bisa menjadi destinasi wisata sejarah untuk melihat kejayaan Sriwijaya dan perkembangan agama Budha di Nusantara.   

Bukti perkembangan agama Budha di Sriwijaya ini bisa dilihat dari Archa Buddha yang tingginya mencapai 2,77 meter. Arca ini terbuat dari batu granit. Di Bukit Siguntang ini kita juga bisa melihat pecahan tembikar dan keramik yang berasal dari Dinasti Tang. 

Dari kawasan wisata sejarah Bukit Siguntang ini kita juga bisa menemukan menara pandang yang berada di tengah-tengah Bukit Siguntang. Selain itu ada juga relief yang bercerita tentang kerajaan Sriwijaya. 




Reaksi:
4

4 komentar:

  1. Mba Astri kapan ke Palembang lagi? Artikelnya informatif Mba..

    BalasHapus
  2. kok bisa pas ya...baru tiga hari yang lalu saya ke Bukit Siguntang, nyekar di makam para raja yang salah satunya adalah eyang kakung ku

    BalasHapus
  3. wahhh keren nih, liburan disana... bdw sudah kesini blm Jambi ? ayooo jalan2.. :D

    BalasHapus