Kamis, 26 November 2015

ASITA dan Dunia Pariwisata Indonesia


Postingan kali ini adalah rekaman yang ditulis on the spot dari wawancara Asnawi Bahar (Ketua Umum ASITA) dalam kegiatan Workshop Forum Sinergi Pesona Indonesia Bersama Blogger dan Jurnalis Online. 26 November 2015 Hotel Oria Jln. Wahid Hasyim Jakarta Pusat. 

ASITA lahir tahun 1971 beranggotakan sekitar 7 ribu lebih. Saat ini ada banyak online travel agent yang tidak berijin. ASITA saat ini sedang merangkul mereka. Jika tidak berijin maka para onlne travel agent ini tidak memiliki ijin dari Kementrian perdagangan itu berarti melanggar undang-undang. Dan jumlah ini ada sekitar 3 ribu lebih. 


ASITA travel fair berkolaborasi dengan pemerintah daerah sehingga namanya harus disesuaikan dengan potensi wisata daerah masing-masing. Saat ini ASITA ingin membuat Indonesia Travel Fair seperti yang dibuat oleh Malaysia, Singapura dll. 

Indonesia memiliki Industri Pariwisata yang memiliki potensi besar, namun saat ini dalam keadaan tertidur. Jika berbicara pariwisata maka kita akan berbicara tentang industri. Produk pariwisata antara lain kuliner, budaya dll. Di Industri Pariwisata ini orang dengan penghasilan yang cukup akan mencari yang lebih. 

Paket-paket tematik lebih berkualitas dan banyak dicari wisatawan. Dalam mengembangkan produk wisata adalah peran ASITA. Menjual pariwisata adalah menjual apa yang orang cari, bukan apa yang kita punya. Kemampuan ASITA yang sangat terbatas maka masih ada kelemahan dalam riset pariwisata. 

Pemerintah berperan dalam regulasi. Sedangkan produk adalah peran dari ASITA. Dalam hal ini ASITA harus melihat segmentasi produk dan segmentasi pasar. Bagi ASITA destinasi yang ideal adalah yang bisa dijangkau kurang dari 2 jam dari ibukota propinsi. 

Kondisi real Indonesia yang merupakan alam dengan rawan bencana, ini menajdi satu kondisi yang mengkahwatirkan bagi industri wisata. Keadaan bencana ini tentu saja bisa membatalkan perjalanan para wisatawan. Dalam sepuluh tahun terakhir perkembangan industri wisata sangat luar biasa. Sehingga jika terjadi bencana, maka kerugian yang dialami juga sangat besar. 

Di luar negeri konsultan perjalanan sangat laris. Ini karena para wisatawan luar negeri selalu merencanakan perjalanannya dengan baik jauh-jauh hari. Mulai dari guide, tiket, penginapan dll. Jadi kalau ada bencana di Indonesia maka perjalanan yang sudha direncanakan itu harus dibatalkan. Sayangnya sinergi dari para pelaku wisata seperti perusahaan pesawat, hotel dan sejenisnya belum baik. 

Masuknya travel agent asing seperti *Tra*****a, Ag**a sangat merugikan ASITA. Ini karena kebijakan pemerintah masih mengijinkan travel agent asing bahkan guide asing bisa beroperasi dengan mudah di Indonesia. 

Kebijakan skala prioritas  Menteri Pariwisata ketika diangkat diantaranya pintu keluar masuk untuk wisatawan asing ada 5 : 
  1. Batam
  2. Kualanamu
  3. Yogyakarta
  4. Denpasar
  5. Jakarta
Namun kebijakan ini tentu saja sangat lemah karena daerah wisata di Indonesia bukan hanya 5 daerah tersebut. Sangat makan waktu dan biaya  kalau wisatawan dari Papua harus ke Bali dulu atau Jakarta dulu. Belum lagi masalah bandara Soekarno Hatta yang sudah padat hingga akhirnya perlu dibuang sebagian ke Bandara Halim. 

Untuk menarik wisatawan agar tinggal lebih lama sehingga lebih banyak mengeluarkan uang, maka perlu diperhatikan teknologi, alam dan hal-hal lain yang mendukungnya. Oleh karena itu perlu diperhatikan perbaikan fasilitas bandara. Ditambah lagi sentuhan teknologi pada daerah wisata seperti misalnya pertunjukan yang melibatkan spesial efect di Ratu Boko Yogyakarta. Dengan demikian industri pariwisata. 






Reaksi:
0

0 komentar:

Poskan Komentar