Jumat, 13 Maret 2015

Sate Hadori Yang Legendaris


Sate Hadori ini berada sangat dekat dengan stasiun Bandung pintu Selatan. Warung sate Hadori ada di Jalan Stasiun Timur no 11-12 tepatnya di terminal Stasiun Hall. Dari stasiun Bandung kita bisa keluar lewat pintu Selatan kemudian melewati jalan kecil yang berada di belakang tugu kereta api. 

Di pojokan stasiun Hall Bandung ada warung sate dengan tulisan “Sate Hadori”. Ada dua pintu di sini, tapi kita bisa masuk lewat pintu yang mana saja. Di depan pintu ada pemilik warung sate yang sedang menyiapkan sate pesanan untuk dibakar. Kita bisa memesan langsung di sini. 


Istimewanya sate Hadori adalah irisannya yang besar-besar. Selain itu satenya dipersiapkan sesaat akan dibakar. Jadi dagingnya pun masih segar. Walaupun irisannya tebal, tapi daging kambing di sini sangat lembut dan mudah dimakan. Di sini ada beberapa pilihan sate yang bisa dipesan. Yaitu sate kambing, sate ati kambing, sate ayam dan sate sapi. 

Sate akan dihidangkan dalam piring disertai sepiring kecil samabl kecap plus irisan bawang dan cabe serta sepiring kecil sambal kacang. Karena irisan daging di sini besar, jadi sebenarnya 5 tusuk sate atau ½ porsi saja sudah cukup untuk satu orang. 

Untuk nasi kita akan diberikan satu bakul kecil untuk satu atau dua orang. Di sini ada juga gule kambing. Isinya adalah jeroan dan daging berlemak. Kuahnya mirip kuah tengkleng di Jawa karena tidak begitu kental. Satu mangkuk gule kambing juga bisa dinikmati untuk dua orang karena porsinya yang lumayan banyak. 

Warung sate Hadori ini buka setiap hari sejak pagi atau setelah subuh dan tutup hingga malam hari sekitar jam 2 atau jam 3 pagi. Bahkan kata si pemilik warung sate ini, seringkali warung sate Hadori buka hingga 24 jam. Jadi bagi yang kelaparan malam-malam di Bandung bisa datang ke sini. Atau bagi yang ingin sarapan pagi bisa ke sini dan menikmati semangkok gule kabing atau satu porsi sate sebagai sumber energy hingga siang hari. 

Selain satenya yang enak dengan irisan besar, sate Hadori juga terkenal karena sudah ada sejak jaman penjajahan Jepang dulu, yaitu sekitar tahun 1940. Wawan Hadori, pemilik warung sate Hadori yang sekarang adalah generasi ketiga. Usaha sate Hadori ini berawal dari nenek Una dan kakek Inung yang sering mengungsi dan berpindah tempat ketika masa pendudukan Jepang dulu. Di pengungsian inilah keduanya berjualan sate karena saat itu membuat sate adalah cara berjualan yang mudah. 

Pada tahun 1940, ketika kakek Inung dan nenek Una mengungsi ke Garut, keduanya membuka kios dan menjual sate di Pasar Baru Garut. Di tahun 1950 an keduanya mengungsi ke Tegalega dan jualan sate mereka pun pindah ke Tegalega. Tidak lama kemudian keduanya pindah berjualan ke Stasiun Bandung hingga menempati sebuah kios berukuran 4X4 m. 

Masa kejayaan sate Inung pada tahun 1961. Hingga akhirnya tahun 1962, kakek Inung meninggal. Usaha pun dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Hadori. Nama warung sate itupun berganti dnegan nama “Sate Hadori”. Ketika Hadori menjadi ketua pedagang stasiun, kios sate ini pun diperluas hingga menempati empat petak kios dengan ukuran keseluruhan 16 X 4 meter. 

Pak HAdori meninggal pada tahun 1990. Usaha pun dilanjutkan oleh anak pertamanya yaitu pak Wawan Hadori yang sekarang masih mengelola warung sate ini. Selain di stasiun Bandung, kini Sate HAdori bisa kita nikmati di beberapa cabangnya di Bandung yaitu di Be Mall, JAlan NAripan, Jalan Cihampelas dan Jalan Sersan Badjuri Cimahi.
Reaksi:
7

7 komentar:

  1. sate yang melezatkan setiap hidangan yang dikolaborasikan dengan rujak ulek dari yang terbentuk dari sate hadori sehingga kisahnya kini melegenda mirip dengan legenda dayang sumbi dan si tumang kekasihnya yang ternyata adalah anak kesayangannya sendiri dan si tumangnya meninggal dipangkuan ibunya dayang sumbi yang sedang makan sate hadori yang legendanya sedemikian mengharukannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ralat mas,...kekasih dayang sumbi yang anaknya itu namanya sangkuriang bukan situmang

      Hapus
  2. ga pake bumbu kacang gitu ya ? hahaha saya suka sate ayam tambah bumbu kacang gitu ...

    BalasHapus
  3. ehm, benar benar menggoda banget sate nya, gule nya sedap juga tuh

    BalasHapus
  4. Coba juga kalau malam sate kambing dekat stasiun bandung yang depan hotel mutiara, dagingnya empuk, enak, dan murah

    BalasHapus
  5. Mantap rasanya, lembut daging ayamnya. Ga nyesel pasti...tp harganya lumayan mahal :(

    BalasHapus
  6. Makan 10 tusuk sate ayam dan 10tusuk sate kambing total 110rb (45rb plus 55rb), ini emank harga sgitu apa karena kita bukan org bandung sengaja dimahalin? Makanannya biasa aja dibilang enak pun ngga, yg mau makan mending mikir 2kali dulu dgn harga 110rb mending makan iga bakar cairo benar2 enak mantap harga sama 55rb
    Nyesal bgt makan ni sate ga ada dua x lg thx

    BalasHapus