Kamis, 12 Februari 2015

Sejarah Stasiun Gambir

Jauh sebelum dikenal dengan nama Gambir, daerah ini dulunya merupakan tanah rawa. Pemilik pertama tanah ini adalahAnthony Paviljoen. Pada tahun 1658 tanah ini disewakan pada seorang Cina untuk dijadikan kebun sayur. 

Pada tahun 1697 tanah ini dibeli oleh Cornelis Chastelein. Ia membangun sebuah rumah yang dilengkapi dengan dua kincir sebagai penggilingan tebu. Cornelis Chastelein inilah yang diperkirakan sebagai orang yang memberi nama tempat ini dengan sebutan Weltevreden yang dalam bahasa Belanda berarti sungguh puas. 

Weltevreden ini sempat beberapa kali berpindah tangan kepemilikan dan fungsi. Pernah menjadi tempat peristirahatan sampai digunakan sebagai pasar. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels kawasan Weltevreden ini kemudian dijadikan sebagai pusat pemerintahan hingga kemudian banyak bangunan megah Art Deco di sekitarnya. 


Gereja Williem
Dilihat dari Lantai 3 Stasiun Gambir 
Pada tahun 1871 di sebelah kanan Gereja Willem terdapat halte Koningsplein atau yang dikenal sebagai halte lapangan Raja. Halte ini dikelola hingga tahun 1884 oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij. 

Pada tanggal 4 Oktober 1884 halte kecil ini kemudian digantikan fungsinya sebagai stasiun Weltevreden. Inilah cikal bakal stasiun Gambir. Satsiun Weltreveden ini dijadikan sebagai stasiun pemberangkatan kereta api tujuan Bandung dan Surabaya hingga tahun 1906. Bangunan Stasiun Weltevreden ini awalnya memiliki atap yang bertumpu pada bantalan besi cor rancangan Staatsspoorwegen (SS). *Pada tahun 1913, Stasiun Weltevreden diambil alih oleh Staatsspoorwegen (SS). Kemudian pada tahun 1917 stasiun ini diperbesar dan bangunannya di rubah sehingga tampak luarnya dengan gaya Art Deco. Pada tahun 1928 atap penutup Stasiun juga diperpanjang sepanjang 55 meter hingga sisi utara. 

Pada tahun 1937 stasiun Weltevreden ini diresmikan dengan nama Stasiun Batavia Koningsplein. Pada masa pemerintahan Indonesia stasiun ini kemudian diresmikan pada tahun 1969 dengan nama Stasiun Gambir. Nama Gambir diambil dari nama daerah tempat stasiun ini berada. Gambir sendiri merupakan nama sebuah pohon yang banyak tumbuh di wilayah ini. Pohon gambir diambil getahnya dan dimakan bersama dengan sirih serta pinang. 

Stasiun Gambir kemudian direnovasi secara besar-besaran pada tahun 1990 an. Di masa ini rel kereta dibangun melayang mulai dari ruas Manggarai hingga Jakarta Kota. Kini Stasiun Gambir telah menjadi stasiun terbesar di Jakarta.
Reaksi:
0

0 komentar:

Posting Komentar