Jumat, 13 Februari 2015

Sejarah Stasiun Bandung

Sejarah stasiun Bandung dijelaskan dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Dulu yang ditulis oleh Haryoto Kunto pada tahun 1984. Tempat yang sekarang menjadi Stasiun Bandung ini dahulu merupakan tanah tak bertuan yang ditelantarkan. 

Stasiun Bandung diresmikan pertama kalinya pada tanggal 17 Mei 1884 di masa pemerintahan Bupati Koesoemadilaga. Pada saat yang sama itu juga dibuka jalur kereta Batavia- Bandung melalui Bogor dan Cianjur. 

Pembangunan stasiun ini dilakukan setelah dibukanya perkebunan di Bandung sekitar tahun 1870. Jalur kereta api digunakan untuk mengirim hasil perkebunan ke Batavia. Pada tanggal 1 November 1894 dibuka jalur Bandung – Surabaya. Jalur ini juga digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan. 

Bahkan para pemilik pabrik dan perkebunan gula dari Jawa Tengah dan Jawa Timur menyewa gerbong kereta yang melalui jalur ini untuk menuju Bandung. Saat itu mereka ke Bandung menghadiri Konggres Pengusaha Perkebunan Gula yang pertama. 

Pembangunan Stasiun Bandung akan membuat pertumbuhan ekonomi kota Bandung meningkat secara pesat. Sehingga pemerintah kota Bandung membangun monument yang berada tepat di depan pintu Stasiun Bandung bagian Selatan. 


Monumen tersebut berupa tugu yang diterangi oleh 1.000 lentera hasil rancangan Ir. EH De Roo. Namun kini monumen tersebut telah diganti dengan replika lokomotif uap seri TC 1008 yang dulu digunakan pada jalur Bandung – Batavia. Monumen tersebut diberi nama “Purwa Aswa Purba”. 

Sebagai perkembangan dari pembangunna jalur kereta dan Stasiun Bandung maka di sekitarnya di bangun gudang. Gudang-gudang ini digunakan untuk menyimpan serta menampung hasil perkebunan yang akan dikirim dengan kereta ke luar Bandung. Bangunan gudang tersebut berada di daerah Cibanngkong, Kosambi, Jalan Cikudapateuh, Jalan Braga, PAsir Kaliki, Kiara Condong, Ciroyom serta Andir. 

Selain itu juga dibangun hotel pertama diBandung yang berada di dekat Stasiun yaitu Hotel Andreas. Bahkan di dekat Stasiun ini juga ada tempat prostitusi yang hingga kini masih ada yang dikenal dengan “Saritem”. 

Perluasan bangunan lama Stasiun Bandung dilakukan pada tahun 1909 oleh arsitek FJA Cousin. Perluasan ini ditandai dengan peron bagian Selatan yang bergaya Art Deco dengan hiasan kaca patri . Pada tahun 1918 dibangun perlintasan Bandung – Rancaekek- Jatinangor-Tanjungsari- Citali. 

Setahun kemudian tepatnya pada tahun 1919 dilakukan pembangunan jalur Bandung-Citeureup- Majalaya. Dilanjutkan dengan pembangunan jalur Citeureup- BAnjaran- PAngalengan pada jalur yang sama pada tahun 1921. Di tahun 1918 juga dibangun jalur Bandung – Kopo yang merupakan jalur perkebunan the. Jalur ini dilanjutkan menuju Ciwidey pada Maret 1921. Sejak tahun 1990 bagian depan Stasiun berpindah dari peron bagian Selatan ke peron Utara. Yaitu peron yang mengarah ke jalan Kebon Kawung.
Reaksi:
0

0 komentar:

Posting Komentar