Senin, 20 Oktober 2014

Naik Kapal Penyeberangan Masyarakat Ke Pulau Harapan


Ada banyak kapal kayu yang merupakan Kapal Penyeberangan Masyarakat bersandar di dermaga pelabuhan Muara Angke.  Masing-masing kapal melayani rute ke beberapa Pulau besar di kepulauan seribu. Seperti Pulau Tidung, Pramuka juga Harapan. 

Kapal kayu yang akan membawa kami adalah Kapal Raja Mas. KArena ini adalah hari libur jadi tidak heran kalau pelabuhan ini penuh sesak. Sebagian besar dari orang-orang yang memenuhi pelabuhan ini adalah mereka yang akan pergi ke Pulau Seribu. 

PErlu sedikit perjuangan untuk bisa sampai ke kapal. Kapal-kapal ini berjajar hingga 4 kapal ke samping. Sehingga kami harus melompat dari satu kapal ke kapal lain agar bisa sampai ke kapal yang kami tumpangi. 

Untunglah kami masuk ke dalam kapal lebih dahulu dibanding yang lain. JAdilah kami bisa dapat tempat di ruang nahkoda. Posisi strategis yang diincar penumpang sebenarnya. 

Setelah menunggu sekitar 45 menit akhirnya kapal yang membawa kami mulai jalan perlahan dari pelabuhan pada pukul 07.30. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian sampai di laut lepas. 

Bapak nahkoda yang membawa kami sudah bekerja sejak tahun 1982. Jadi tidak heran kalau feelingnya bagus banget. Ketika ada yang bertanya berapa kecepatan kapal ini, maka dengan cepat ia manjawab, "11 mil/jam." PAdahal di depan kemudi tidak ada alat pengukur kecepatan sama sekali. 

Sepanjang perjalanan, bapak nahkoda yang ramah berbaik hati menjadi guide kami. Ketika melewati pulau pertama di sebelah kanan ia bercerita tentang riwat pulau yang diberi nama Pulau Sakit. "Waktu jaman belanda dulu, orang yang sakit di bawa ke sini." Bisa jadi ini adalah pulau tempat pembuangan para penderita kusta. 

Bapak nahkoda juga bercerita tentang bagaimana ia mengatur kecepatan kapal. Di depan kemudi ada 6 tuas, 3 berwarna hitam dan 3 lagi berwarna merah. Nah jika tuas hitam ini maju ke depan itu artinya kecepatan bertambah. Jadi kalau 3 tuas itu maju semuanya, itu tandanya kapal melaju dengan kecepatan penuh. 

Cuaca hari ini angat cerah, jadi di laut ombaknya kecil dan hanya terasa sedikit goncangan. Akan tetapi semakin jauh kapal berjalan, ombak semakin besar, walaupun tidak besar sekali. Dan goncangan yang kami rasakan sempat membuat beberapa temanku mabuk laut, sehingga sebagian dari kami lebih banyak melewatkan perjalanan ini dengan tidur. 

Mungkin juga karena ini adalah hari libur, kapal yang kami tumpangi sarat penumpang. ruangan kapal yang terdiri dari 2 lantai ini penuh. Begitu juga di bagian kanan dan kiri kapal. Bahkan di bagian depan kapal juga terisi penumpang. 

Awalnya aku memang sempat ragu naik kapal kayu ini. Karena ini adalah untuk pertama kalinya naik kapal ini. Perjalananku ke Pulau Seribu sebelumnya adalah naik speed boat dari Marina Ancol dengan suasana pelabuhan dan kapal yang sangat jauh berbeda. Namun akhirnya aku mulai menikmati naik kapal kayu ini, apalagi bisa merasakan secara langsung hembusan angin laut yang sejuk dan matahari pagi yang menyehatkan.  

Di tengah perjalanan ada petugas kapal yang menarik ongkos. Aku pikir , "mirip banget sama angkot di Jakarta. Penumpang naik dulu dan ongkos di tarik di atas." Jadi kalau naik dari pelabuhan Muara Angke kita tidak perlu beli karcis. Ongkos menuju Pulau Harapan sebesar Rp 35.000. Sepertinya harga ini berlaku sama baik itu di hari libur atau hari biasa. 

Setelah di dalam kapal selama kurang lebih 2,5 jam kami pun mulai melihat sebuah pulau dengan dermaga. Di perairan sebelum mencapai pulau ini juga banyak terdapat keramba apung. Setelah mencapai dermaga Pulau Harapan semua penumpang turun satu persatu dari bagian depan kapal dan pintu samping ruang lantai bawah. 
Reaksi:
5

5 komentar:

  1. Asik bgt naik kapalnya dapet tempat diruang nahkoda seru tuh disitu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bisa memandang laut lepas dengan bebas juga :D

      Hapus
  2. Selain Pulau Harapan masih ada Pulau Tidung di Kepulauan Seribu dengan Mitos cintanya.
    Salam

    BalasHapus
  3. Mbak liputan jalan-jalan ke pulau seribunya mantab. Waah jadi ingat saat saya di Ambon dulu Mbak. Kalu au ke pulau Saparua juga naik kapal kayu :)

    BalasHapus
  4. Penuh dengan perjuangan untuk naik ke kapal ini ya mba ? Tapi para penumpangnya terlihat tenang dan santai menuju Pulau Tidung walau tidak menggunakan pelampung di dalam kapal ya ? :D

    Salam

    BalasHapus