Rabu, 23 Juli 2014

Menuju Darmasraya

Aku tiba di Bandara Minangkabau Padang Sumatera BArat pada pukul 08.05 pagi. Kali ini perjalananku menuju Darmasraya. Sebuah kota kabupaten hasil pemekaran yang baru berdiri pada tahun 2007. Kota ini berada di Jalan Lintas Sumatera. Tepatnya di bagian ujung tenggara dari Propinsi Sumatera Barat berbatasan dengan Jambi. Darmasraya merupakan daerah perkebunan karet dan kelapa sawit dengan 11 kecamatan dan 52 nagari.

Kota ini banyak menyimpan situs sejarah. Ini karena Darmasraya dulunya merupakan bekas kerajaan Melayu Jambi. Ibukota kabupaten ini berada di Pulau Punjung. Disinilah arca paling besar yang berada di Museum Nasional Indonesia yaitu Arca Bhairawa ditemukan, juga prasasti Amoghapasa.  

Sebelum datang ke Darmasraya aku sudah memesan travel lewat telpon dan minta dijemput di Bandara. Biaya travel dari Bandara ke Darmasraya adalah Rp 95 ribu. Sedangkan jika kita datang beramai-ramai dan ingin menyewa mobil, maka harga sewa mobil menuju Darmasraya adalah Rp 750 ribu. 

Perjalanan menuju Darmasraya ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam. Tapi sopir travel di sana sudah terbiasa menyetir dengan kecepatan tinggi. Apalagi jalan yang dilalui sangat mulus dan termasuk sepi. Jadilah kecepatan 80-100 km/ jam akan mempercepat perjalanan. Hingga aku pun bisa sampai ke Darmasraya dengan bonus hati berdebar dalam waktu 4 jam. 

Sebenarnya naik travel di padang bukan saja diberi bonus deg-deg an, tapi juga bonus keliling kota padang. Jadi travel akan menjemput calon penumpangnya dari rumah ke rumah. Nah kalau sudah selesai barulah ke kantor Travel. 

Di kantor inilah para penumpang membayar tiket dan diberi nomor tempat duduk. Saranku jika memesan travel seperti aku, lebih baik memilih tempat duduk sekalian. Karena perjalanan jauh pasti akan lebih nyaman jika kita duduk di tempat yang enak kan. 

Jalan menuju Darmasraya berkelok-kelok melewati bukit dan hutan. Setelah melewati pabrik semen padang di Indarung, jalan mulai menanjak dan berliku. Jalan paling indah adalah ketika melewati Solok. Di sana terlihat pemandangan Gunung Talang yang sangat indah dan hawanya pun lumayan dingin. Karena alasan inilah maka travel yang kita tumpangi akan memilih memakai AC alam, selain hemat mereka juga bisa memacu mobil dengan kecepatan lebih jika tidak menggunakan AC. 

Jangan heran jika di sepanjang perjalanan kita akan bertemu dengan monyet yang duduk santai atau berjalan santai di tepi jalan. Bahkan kita harus bersiap-siap jika suatu saat secara mendadak sopir travel akan mengerem mendadak karena ada monyet yang menyeberang dengan santainya. 
Reaksi:
2

2 komentar:

  1. wah saya gak mau ah duduk santai d stu ndak dikira monyet xixixix nice trip mbak heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. paling juga akan ditemani sama monyet mas kalau duduk di tepi jalan :D

      Hapus