Jumat, 27 Juni 2014

Warna-Warni Dalam Semangkuk Wedang Ronde


Bandung yang dingin apalagi di waktu mendung adalah salah satu alasan berburu kuliner hangat yang ringan. Semangkuk wedang ronde panas tentu saja akan mampu menghangatkan badan. Bagi yang suka susu kedelai, maka sekoteng bisa jadi pilihan wajib selain wedang ronde. 

Kenikmatan dimsum juga bisa melengkapi kehangatan semangkuk ronde yang kita santap. Jika kita berada di kota kembang Bandung, tidak ada salahnya jalan-jalan di Jalan Gardu Jati. Di dekat pasar Astana Anyar, tepatnya di Jalan Gardu Jati no.52 Bandung ada sebuah warung yang menyediakan wedang ronde dan minuman hangat lainnya. Karena tempatnya yang unik aku lebih suka menyebutnya dengan cafĂ© tradisional ronde. 

Warung Ronde Gardu Jati sudah ada sejak tahun 1986. Awalnya ini adalah sebuah gerobak yang ada di kaki lima. Di bagian lain Jalan Gardu Jati tepatnya di dekat hotel Trio, kita juga bisa menikmati ronde yang sama di gerobak kaki lima. Sedangkan warung ronde Gardu Jati ini sendiri mulai buka sejak pukul 9 pagi hingga 12 malam. 

Dulu sebelum tahun 2003 tempat ini bernama Ronde jahe warna warni. Kemudian pada tahun 2005 menjadi rumah ronde. Kini kita bisa mengenal tempat ini dengan nama warung ronde Gardu Jati karena tempatnya di jalan Gardu Jati. 

Tempat ini tidak begitu besar, terletak tepat di tepi jalan Gardu Jati Bandung. Di depan pintu ada sebuah papan tulis hitam yang ditulisi menu dengan menggunakan kapur. Dari elatalase kita bisa melihat aneka cerek tradisional dan perlengkapan dapur lainnya. 

Begitu masuk di sebelah kanan ada meja dan kursi bar yang jumlahnya tidak begitu banyak. Dari kursi ini kita bisa melihat bagaimana para pelayan warung ini meracik isian ronde dan membuat aneka hidangan yang disajikan di sini. Sambil menunggu kita pun bisa mencicipi aneka camilan ala warung. 

Masuk lebih ke dalam lagi ada beberapa meja dan kursi kayu. Sedangkan di ujung ruangan terdapat tangga menuju ke atas. Tempat ini memang terdiri dari dua lantai. Jadi kalau di bawah sudah penuh, maka jangan khawatir. Kita bisa naik ke lantai atas dan menikmati kehangatan ronde di atas sana. 


Interior tempat ini di dominasi oleh hiasan China. Di dinding warung ini juga dihiasi oleh kusen jendela yang unik bergaya tempo dulu. Ada juga papan hitam bertuliskan menu special pilihan yang dikenal sebagai “Ronde Hoki”. Menu Ronde Hoki diantara adalah Ronde soya, ronde durian, tahu ronde dan kacang hijau. 

Yang unik di sini adalah isian ronde yang berwarna-warni. Isian ronde terbuat dari tepung beras ketan yang ditambahkan air dan dibuat adonan hingga bisa dibentuk. Adonan ini kemudian dibentuk bulat mirip bola-bola kecil. Di dalamnya diberikan isian berupa aneka jenis kacang yang dihaluskan dan diberi gula agar manis. 


Ronde biasanya dinikmati oleh keluarga Tionghoa yang berkumpul pada 40 hari menjelang perayaan Imlek. Bahkan ronde juga digunakan dalam ritual sembahyang . Seperti terlihat adanya beberapa keluarga Tionghoa yang melaksanakan sembahyang ronde. Bagi masyarakat Tionghoa, ronde identik dengan kebersamaan keluarga seperti halnya teh bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. 

Kuah ronde sendiri terbuat dari campuran jahe dan gula. Sari jahe inilah yang memberikan rasa hangat di dalam tubuh. Gula yang digunakan juga ada beberapa pilihan. Bisa menggunakan gula putih atau gula pasir. Namun juga nikmat jika menggunakan gula merah atau gula Jawa. 

Di tempat ini kita bisa mendapatkan isian ronde atau bola-bola ronde yang masih segar. Setelah pengunjung memesan maka para pelayan di tempat ini dengan cekatan membuat isian ronde. Adonan tepung beras ketan memang sudah dipersiapkan sebelumnya, jadi pelayan di sini tinggal membentuk bulatan, mengisinya dengan aneka kacang dan merebusnya dalam air panas. Bola-bola tepung ketan yang warna-warni ini setelah mengambang dipermukaan air mendidih akan diangkat dan disajikan di dalam mangkuk bersama kuah jahe. 

Di sini ada sepuluh macam kombinasi wedang ronde . Ada beberapa pilihan wedang ronde favorit seperti ronde campur, ronde soya, ronde durian, tahu ronde, kembang tahu serta sekoteng. Harga yang diberikan di sini juga murah meriah yaitu dalam kisaran Rp 10.000 – Rp 15.000 untuk setiap mangkuknya. 

Warna-warni bola-bola ronde yang ada di sini menandakan isiannya. Bola yang berwarna merah muda di dalamnya berisi kacang merah. Sedangkan bola yang berwarna hijau di dalamnya berisi kacang hijau. Untuk ronde yang isi di dalamnya durian bolanya berwarna putih. Ada juga bola ronde tanpa isi yang dibalut dengan wijen diluarnya. Bola warna lain isi di dalamnya adalah kacang tanah. 

Sekoteng adalah sejenis ronde dengan kuah dan isian yang lebih beragam. Di tempat ini kuah sekoteng adalah perpaduan kuah ronde dengan rasa jahe yang kuat dengan susu kedelai yang gurih. Di dalamnya terdapat isian bola-bola ronde serta kacang tanah juga potongan roti tawar. 

Nuansa China yang sangat kental di tempat ini juga bisa dirasakan dengan berbagai hidangan pilihan lainnya. Di sini kita bisa mencicipi aneka dimsum yang masih hangat dan disajikan dalam tenong kecil yang klasik. Untuk satu porsi aneka dimsum di sini bisa dinikmati dengan harga Rp 13.000 saja. 


Kita bisa mencoba dumpling hangat yang legit. Perpaduan udang dan ayam di dalamnya terasa pas apalagi jika dicelupkan pada saus yang disediakan secara terpisah. Satu porsi dumpling berisi tiga buah. 

Kaki ayam yang ada di tempat ini juga layak dicoba. Kita tidak perlu bersusah payah memisahkan tulangnya, karena kaki ayam yang dihidangkan di sini sudah siap untuk disantap tanpa tulang. Dimasak dengan bumbu asam manis khas China rasanya tidak cukup jika hanya menikmati satu porsi saja. 


Ada banyak alasan untuk merayakan kebersamaan secara sederhana di tempat ini. Kehangatan bukan saja terasa dari kuah ronde tapi juga dari suasana yang ada di sini.



Reaksi:
0

0 komentar:

Posting Komentar