Minggu, 29 Juni 2014

Cerita Di Makam Dewi Sartika


Ini adalah ceritaku ketika berkunjung ke makam Dewi Sartika di Bandung. Aku sendiri baru tahu kalau makam Dewi Sartika ternyata berada di Bandung ketika searching tempat-tempat wisata disekitar hotel tempatku menginap. Saat itu aku menginap di Hotel Gino Feruci Kebon Jati. 


Tidak banyak orang tahu tentang keberadaan makam Dewi Sartika ini. Untunglah aku bertemu dengan seorang tukang becak yang sudah tua namun masih kuat mengayuh becak. Ia membawaku mengunjungi Kelenteng kemudian ke makam Dewi Sartika. 

Dewi Sartika adalah tokoh perintis pendidikan bagi kaum wanita di Bandung. Ia pernah mendirikan sekolah istri atau yang dikenal sebagai Sakola Istri di beberapa wilayah Jawa Barat. Atas jasanya tersebut Dewi Sartika diberikan penghargaan oleh pemerintah Indonesia sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui SK Presiden No. 252 tahun 1966. 


Makam Dewi Sartika terletak di Jalan Karang Anyar Astana Anyar Bandung. Dari stasiun Kereta Api Bandung, kita bisa naik becak dengan biaya sekitar Rp 20.000. Sebenarnya bisa juga naik angkot karena ada angkot yang lewat di depan makam, cuma aku gak tahu jalurnya. 


Kalau naik kendaraan pribadi, setelah melewati jalan Gardu Jati dan jalan Cibadak masuk ke jalan Pejagalan. Sekitar 500 meter dari Jalan Pejagalan kita harus belok kiri masuk  ke jalan Karang Anyar. Di sebelah kiri kita akan menemukan pintu gerbang makam yang khas. 

Di makam ini ada papan petunjuk "Situs Makam Bupati Bandung". Karena tempat ini sebenarnya adalah makam keluarga Bupati Bandung, maka makam ini juga dikenal sebagai "Makam Ageng". 

Makam ini tidak begitu luas karena luas keseluruhan hanyalah 2.999 m2. Ada 10 juru kunci yang mengurus makam ini yaitu enam jurus kunci wanita dan 4 juru kunci laki-laki.  Itu sebabnya makam ini selalu terlihat bersih dan rapi. 

Sebenarnya makam ini adalah makam keluarga, jadi tidak dibuka untuk umum. Kalau kita ingin berziarah ke Makam Dewi Sartika maka kita harus meminta ijin dahulu pada juru kunci yang mengurusi makam ini. 

Di kompleks pemakaman ini, makam Dewi Sartika berada di tepi kiri jalan masuk. Di sisi kanan jalan masuk ada makam suami Dewi Sartika yang bernama Raden Kanduruan Agah Suriawinata. 

Di Kompleks pemakaman ini juga ada makam Dr. Hasan Sadikin yang merupakan adik kandung dari mantan Gubernur DKI Ali Sadikin. Nama Dr. Hasan Sadikin diabadikan sebagai nama RSU di Bandung. 

Makam para Bupati Bandung berada di bangunan induk menyerupai pendopo. Ada sekitar  40 makam lengkap dengan potret orang yang dimakamkan di bangunan induk ini. Diantaranya makam Bupati Bandung keturunan Raden Adipati Wiranata Kusumah. 

Dalam pendopo tersebut juga terdapat makam ayah dan ibu Dewi Sartika. Ayah Dewi Sartika bernama Raden Somanegara sedangkan ibunya bernama Nyi Raden Rajapermas. 

Dewi Sartika wafat di Tasikmalaya dalam usia 62 tahun tepatnya pada tanggal 11 September 1947. Setelah meninggal Dewi Sartika dimakamkan di pemakaman Cigagadon Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian makam Dewi Sartika dipindahkan ke kompleks pemakaman Bupati Bandung. 


Reaksi:
4

4 komentar:

  1. nah saya juga baru tau sejarah dewi sartika , bahkan makan nya juga baru tahu , padahal saya orang jawa barat, haduh ... tapi makasih ya info dari mba astri sangat bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kapan-kapan bisa juga datang dan melihat makam Dewi Sartka kalau pas ke Bandung ya mbak Defa :)

      Hapus
  2. haturnuhun info wisata sejarahnya teh astri...

    BalasHapus
  3. disitu juga ada makam almarhum bpk hasan sadikin, yang namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit hasan sadikin. paling pojok makam kakek dan nenek saya.

    BalasHapus