Minggu, 02 Maret 2014

Kampung Kapuk Dalaka

Pohon kapuk ada di setiap kebun di Dalaka
Kampung unik ini ada di Donggala Sulawesi Tengah. Namanya Dalaka, singkatan dari Daerah Ladang Kapuk. Tidak banyak orang tahu dimana kampung ini berada walaupun hasil dari kampung ini yaitu Kasur kapuk sudah terkirim hingga pulau Jawa. Konon ceritanya biji kapuk pertama yang ada di sini datangnya bersamaan dengan penghuni pertama kampung ini.
Siang itu udara sangat panas. Dari jalan raya trans Sulawesi yang berada di Pantai barat Kabupaten Donggala terpampang papan jalan bertuliskan Jalan Kapuk Indah. Di situlah jalan masuk menuju desa kapuk – Dalaka yang siang itu nampak sepi.

Jalan dalam desa Dalaka
Walaupun kepopuleran kasur kapuk telah tenggelam oleh kasur pegas buatan pabrik, namun usaha kasur dan bantal dari kapuk randu di Dalaka masih tetap berjalan dengan baik. Produksi kasur daerah ini bukan saja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Sulawesi Tengah tapi juga dikirim ke luar propinsi bahkan ke luar pulau Sulawesi. 


Mengisi kasur dengan kapuk
Tidak pernah ada yang tahu kapan tepatnya desa ini ada. Begitu juga halnya tidak ada yang tahu dengan pasti kapan pertama kalinya pohon randu ini ada di setiap jengkal tanah di Dalaka.

Memanjat pohon untuk mengambil kapuk
Dari sebuah cerita rakyat di sana dipercaya bahwa pohon randu ada bersamaan dengan adanya desa Dalaka. Konon kabarnya dahulu ada seseorang yang mereka kenal sebagai nenek moyang desa Dalaka. Beliau datang dari Majene (Sulawesi Barat) ke Dalaka dengan membawa biji Randu. Sejak saat itulah pohon randu banyak tumbuh di desa Dalaka. 


Rumah pengolahan kapuk 
Nama Dalaka sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Kaili yang artinya justru tidak diketahui oleh banyak orang di sana. Hanya saja masyarakat Dalaka kemudian menghubungkan nama daerah tersebut dengan keberadaan pohon randu yang menghasilkan buah kapuk. Sehingga nama Dalaka dikenal sebagai singkatan dari Daerah Ladang Kapuk.



Reaksi:
14

14 komentar:

  1. Dalam rangka apa kesitu mba? Trus boboknya dimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalam rangka jallan-jalan nyambi tugas lah yang pasti... boboknya di hotel lah mbak Arin hehhehhe

      Hapus
  2. Wahh.. yang manjat pohonnya perempuan!!...amazing aku

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah nenek-nenek malahan ... tambah amazing kan Ade anita :D

      Hapus
  3. Pengen banget bisa melipur ke kawasan Kampung Daka ini. Tapi kapan ya ? :D

    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meliput di kampung Dalaka kali ya mas ... kalau nulis tuh yang bener napa , gak perlu buru-buur, lha wong gratis ini ... :D

      Hapus
  4. kayanya kalau kita butuh kasur yang empuk bagusnya maen ke Kampung Dalaka, mesti pulangnya bisa bawa kasur kapuk yang makjleb dan tentunya asli dong yea?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asli kapuk randu tanpa campuran dacron apalagi kain kang :)

      Hapus
  5. wah kampungnya sepertinya nyaman ya mbak hehehe, jauhh sekali kapan ya saya bisa ke sana ?? hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah kalau memang diniatkan akan bisa keliling Indonesia .... jalannya kan bukan urusan kita :)

      Hapus
  6. betewe itu ibu ibu mau manjat pohon kapuk pake baju tidur gituh ya....wah saya dong yang ngumpulin kapuknya kalo gituh mah.. :-t

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kang .... semua pake daster gitu kalau manjat pohon kapuk :D

      Hapus
  7. hehe iya mba sya pribadi juga lebih menyukai kasur pegas ketimbang kasur kapuk, karena lebih mudah perawatannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kalau kasur pegas gak perlu dirawat ... dah rusak langsung dibuang beli yang baru ya mbak Dewi :D

      Hapus