Selasa, 10 Desember 2013

Wedangan Klasik Di Angkringan Temaram

Segelas wedang jahe 
Malam yang basah oleh hujan terasa hangat setelah meneguk segelas wedang jahe panas. Suara rintik hujan di atas tenda angkringan terdengar merdu dalam suasana temaram. Kursi kayu di sekeliling gerobak hik terlihat penuh oleh pelanggan setia yang berteduh. 

Wedangan sudah menjadi gaya hidup warga Solo sejak dulu. Angkringan sendiri berarti duduk santai. Di sini orang-orang ngobrol sambil menikmati aneka minuman dan hidangan khas yang tersedia. Harga makanan yang murah menjadi salah satu alasan orang-orang datang ke sini. Selain itu suasana klasik dibawah lampu temaram menjadikan cafĂ© jalanan ala Solo ini menjadi tempat berkumpul yang nyaman bagi komunitas tertentu. 

Walaupun hik dengan lampu temaram merupakan gaya klasik, namun rupanya para pengunjung selalu mengikuti kemajuan jaman. Ini terbukti dengan banyaknya pengunjung yang memanfaatkan gadget. Obrolan ternyata bukan hanya dengan orang-orang yang ada di dekat mereka tapi juga dengan orang-orang yang ada di tempat yang jauh. 

Di setiap sudut jalan tidak lebih dari hitungan ratusan meter bisa kita jumpai tenda-tenda terpal temaram dengan gerobak dorong yang berisi aneka makanan khas. Wedangan di Solo dikenal juga dengan nama hik (Hidangan Istimewa Ala Kampung). 

Menu yang ada dalam gerobak hik
Di dalam gerobak bisa kita jumpai aneka hidangan khas hik seperti sego kucing, sate keong, sate kikil, sate kulit, tahu dan tempe bacem, pisang goreng, tahu goreng dan masih banyak lagi. Biasanya pengunjung akan memilih makanan yang tersedia di dalam gerobak kemudian pedagang akan membakarnya di bara api. 

Gerobak hik dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian berisi aneka makanan sedangkan bagian lainnya berisi anglo dengan bara api yang digunakan untuk menghangatkan teko berisi wedang jahe. Di anglo inilah makanan yang telah dipilih oleh pembeli akan dihangatkan kembali dengan cara dibakar. 
Wedang jahe, sego kucing dan sate keong 
Tingginya minat masyarakat untuk duduk santai di malam hari menyebabkan menjamurnya hik di Solo. Sekarang hik bukan lagi hanya sekedar gerobak dorong dengan lampu temaram. Lebih dari itu, hik dengan ruangan yang luas dengan lampu yang lebih terang telah banyak bermunculan. Hidangan modern seperti roti bakar pun muncul sebagai variasi dari hidangan ala kampung yang ada. Namun keberadaan angkringan klasik dengan lampu temaram tetap menjadi idola.
Wedangan modern style 

Reaksi:
10

10 komentar:

  1. Kangen sama wedang klasik di angkringan seperti ini. Suasananya membuat kesan yang sulit dilupakan.

    Salam

    BalasHapus
  2. Wedang jahenya sepertinya enak nih mak diminum dingin2 gini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cocok emang mak
      Makasih sudah mampir mak melly

      Hapus
  3. Wah cocok untuk acara santai, murah-meriah dan pas juga untuk tanggal tua ya Jeng
    Terima kasih artikelnya yang informatif
    Blognya bagus.
    Keep blogging
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Pakde sudah mampir ke sini
      Thanks juga buat semangatnya

      Hapus
  4. cocok untuk sahur nich mana menunya lengkap lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas ... menus sahur yang murah meriah :)

      Hapus
  5. wedangan di angkringan memang enak ya bisa menghangatkan badan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya apalagi kalau angkringannya banyak pengunjung jadi duduknya berdempetan :D

      Hapus