Minggu, 29 Desember 2013

Melestarikan Situs dan Candi di Lereng Lawu

Jalan berliku diantara bukit Teletubbies terasa menyegarkan jiwa siapapun yang melaluinya. Hamparan kebun teh dan kokohnya pinus serta cemara seolah memberikan sambutan selamat datang mewakili seisi alam. Perjalanan menuju lereng gunung Lawu bisa jadi merupakan sebuah perjalanan ajaib bagi siapapun yang bersahabat dengan semesta. 

Dibalik perbukitan yang mirip dengan bukit Teletubies itu tersimpan wisata religi yang tidak sedikit jumlahnya. Di atas ketinggian 900 hingga 1500 m dpl pada lereng gunung Lawu terutama di kecamatan Ngargoyoso, Jenawi serta Tawangmangu Kabupaten Karangayar terdapat situs-situs religi yang harus dilestarikan keberadaannya.
Di Kecamatan Jenawi ada Candi Cetho, candi Kethek dan Puri Taman Saraswati. Di Kecamatan Ngargoyoso ada Candi Sukuh dan Candi Plangatan. Sedangkan di Kecamatan Tawangmangu ada situs Menggung. Semua candi dan situs di lereng Gunung Lawu ini semuanya merupakan tempat beribadah agama hindu yang hingga kini masih banyak digunakan sebagai tempat berziarah maupun ritual lainnya. 
Keberadaan candi dan situs-situs tersebut sebenarnya bisa menambah pendapatan daerah setempat. Juga pendapatan masyarakat sekitar tentunya. Namun dibukanya tempat ini sebagai tempat wisata umum justru mengurangi nuansa religi serta kenyamanan beribadah di dalamnya. 

Candi Cetho 


Kabut tipis yang berada diantara gapura membuat Candi ini seperti negeri di atas kahyangan. Cetho artinya jelas. Dari ketinggian 1496 m dpl, di mana candi ini berada, kita memang bisa melihat dengan jelas pemandangan di bawahnya. Terutama pemandangan kota Solo dan Karanganyar. Candi yang terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi ini dikenal sebagai tempat ruwatan atau pembebas kutukan. 

Candi ini dibangun pada akhir masa Kerajaan Majapahit Hindu yaitu sekitar abad 15 tepatnya tahun 1475 M. Bentuk candi ini adalah Punden berundak dengan 14 teras yang membentang dari barat ke timur dengan posisi dari bawah ke atas. Sayangnya pemugaran yang dilakukan pada tahun 1970 justru hanya meninggalkan 9 teras saja. Sekilas candi ini mirip dengan candi suku Maya di Meksiko juga candi yang dibangun oleh suku Inca di Peru. 

Candi Kethek 



Dari teras kedua Candi Cetho ada jalan kecil yang berlanjut pada tracking berupa jalan tanah menuju Candi Kethek. Candi ini berada di kawasan hutan lindung milik Perhutani dengan ketinggian sekitar 1400 meter dpl. Berada di bawah rimbunnya dedaunan pinus, puncak candi yang berarti Monyet ini memang cocok digunakan sebagai lokasi meditasi maupun ruwatan. Pada puncak tertinggi candi ini terdapat altar pemujaan. 

Bangunan Candi Kethek berupa punden berundak dengan komponen penyusun berupa batu-batu alam dalam ukuran besar dan kecil. Ada 7 teras dengan tangga berukuran kecil dan kemiringan yang curam menuju setiap teras. Seharusnya ada arca kura-kura kecil pada setiap tangga sebagai lambang dewa wisnu. Sayangnya kita tidak akan bisa menjumpai arca-raca tersebut sekarang dan entah kemana perginya arca-arca itu tidak banyak orang yang tahu. Padahal dari arca kura-kura itu diketahui bahwa candi ini dibangun pada abad 15. 

Selain arca , atap candi kethek juga sudah menghilang. Terdapat juga relief diantara batu-batu penyusun namun keadaannya sudah tidak mirip relief lagi. Padahal menurut sejarah, di candi ini terdapat 5 buah panil relief. 

Puri Taman Saraswati 

Letaknya masih berada di kompleks candi Cetho. Jalan menuju Puri ini sama dengan jalan menuju Candi Kethek. Bedanya, jalan yang menuju Puri ini berupa jalan semen yang halus. Patung Dewi Saraswati bisa kita lihat berdiri di atas teratai yang berada tepat di tengah-tengah taman Saraswati ini. Ada tiga bagian penting dalam Puri Taman Saraswati ini yaitu Patung Dewi Saraswati, altar pemujaan serta Sendang Pundi Sari yang di dasarnya terdapat sebongkah batu symbol kewanitaan. . 

Saraswati merupakan dewi ilmu pengetahuan dan seni. Dewi Saraswati adalah pasangan Dewa Brahma yang digambarkan memiliki empat lengan. Keempat lengan tersebut melambangkan pikiran, intelektual, mawas diri, dan ego. Keempat lengan Dewi Saraswati digambarkan sedang memegang kecapi, kendang kecil, lontar (buku) serta genitri (semacam tasbih). Patung ini didatangkan dari GIanyar Bali . Sedangkan Puri Taman Saraswati ini sendiri diresmikan pada tanggal 28 Mei 2004 oleh Bupati Karanganyar dan Bupati Gianyar sebagai bentuk kerjasama spiritual dan keagamaan. 

Candi Sukuh 
Candi ini sering dikatakan sebagai Kamasutra Indonesia. Tentu saja karena Candi eksotis yang satu ini memiliki arca serta relief yang menggambarkan kehidupan sebelum lahir serta seksualitas. Bahkan Lingga dan Yoni yang ada di candi ini digambarkan dengan alat kelamin pria dan wanita dalam bentuk yang sebenarnya. Keunikan relief dan arca di Candi Sukuh bahkan bisa menandingi Candi Khajuharo di India. 

Bangunan Candi yang berada di dusun Sukuh Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso ini bentuknya menyerupai Piramid yang ada di Meksiko serta Peru. Kawasan Candi yang dibangun pada abad 15 ini sendiri berada pada ketinggian 910 m dpl dengan luas area kompleks 5.500 m2. Ada tiga teras yang tersusun dari 3 pintu dengan bangunan utama Candi bisa dibilang kecil. 

Di sini terdapat arca-arca tanpa kepala. Namun bukan berarti arca-arca ini dirusak oleh pengunjung. Ketiadaan kepala arca-arca ini karena pengaruh masuknya islam ke Jawa. Konon menurut cerita kepala arca tersebut memang sengaja dipenggal oleh Raden Patah untuk menghindari perbuatan Syirik. 

Candi Planggatan 


Letak candi ini berdekatan dengan Candi Sukuh sekitar 4-5 km. Dari halaman parkir candi sukuh ada papan kecil sebagai penunjuk arah menuju candi Plangatan ini. Sayangnya jalan menuju candi ini harus dilalui dengan melewati jalanan rusak yang banyak tanjakan dan turunan yang curam. 

Ketika sudah sampai di lokasi, jangan berharap akan melihat sebuah bangunan candi besar seperti di Sukuh ataupun Cetho. Di sini yang tersisa hanyalah reruntuhan dan gundukan bebatuan saja. Ada relief di beberapa tempat. Kompleks candi Plangatan ini berada di lahan seluas 4.460m2. Penggalian mulai dilakukan oleh BP3 sejak tahun 1985. Dari salah satu relief yang ada bisa terbaca bahwa candi ini dibangun pada tahun 1456 M atau selisih 19 tahun dengan selesai dibangunnya candi Sukuh pada 1437 M. Konon candi Plangatan ini dibangun oleh prabu Brawijaya V sebelum moksa ke gunung Lawu. 

Situs Menggung 


Situs ini berada di dusun Nglurah kawasan agrowisata tanaman hias Tawangmangu, tidak jauh dari terminal bis Tawangmangu. Lokasi situs ini dikelilingi oleh bukit serta hutan. Setiap hari Selasa Kliwon pada wuku Dukut di sini diadakan upacara Tawur Dukut pada pagi hari. Upacara Tawur Dukut digelar untuk memperingati bersatunya Kyai Menggung (Narotama) dan Nyi Roso Putih. 

Situs ini berupa punden berundak tiga teras mirip yang ada di candi kethek. Ada dua arca yang merupakan pusat dari Situs Menggung ini. Kedua arca tersebut berada pada ujung teras ketiga yang dikelilingi tembok. Ada yang menyebut arca ini adalah Kyai Menggung dan Nyi Rasa Putih istrinya. Namun sebagai candi hindu kedua arca tersebut merupakan perwujudan dari Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Dalam sebuah legenda, situs ini dipercaya sebagai petilasan Raja Airlangga. Diperkirakan Situs ini sudah berumur 1000 tahun. HIngga kini situs ini masih digunakan sebagai tempat berziarah para pemeluk agama hindu dan juga kejawen.  

Melestarikan Wisata Religi Melestarikan Situs dan Candi Yang Sesungguhnya. 

Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melestarikan Situs serta Candi di Lereng Gunung Lawu melalui Wisata Religi. 
1. Adanya pengawasan yang ketat pada setiap arca-arca yang ada sehingga tidak lagi terjadi arca-arca yang hilang. 
2. Diberikan papan peringatan di setiap teras yang menjadi tempat meditasi agar pengunjung berlaku sopan dan menghormati orang-orang yang sedang meditasi. 
3. Untuk tempat-tempat yang digunakan sebagai tempat meditasi, sebaiknya diminimalisasi untuk dilihat oleh wisatawan umum. 
4. Disediakan tur guide agar para wisatawan mengerti akan arti religi maupun sejarah candi maupun situs yang bersangkutan. 
5. Papan penjelasan tentang candi yang ada baru berupa papan besar yang terletak di tempat yang kurang strategis sehingga orang sedikit malas untuk meluangkan waktu membaca. Sebaiknya papan penjelasan itu diletakkan di tempat yang lebih strategis, seperti di dekat pendopo tempat wisatawan beristirahat. Atau bisa juga diberi penjelasan pada papan yang lebih kecil dan diletakkan pada setian arca maupun situs yang diceritakan sehingga penjelasannya lebih mudah diingat dan menarik untuk dibaca. 
6. Jalan menuju candi yang masih berupa tanah seperti jalan menuju Candi Kethek sebaiknya diperbaiki agar tidak membahayakan pengunjung karena selain masih berupa jalan kecil dari tanah juga langsung berbatasan dengan jurang. 
7. Diadakannya trayek khusus ke lokasi Candi dan situs sehingga wisatawan dari manapun bisa dengan mudah menjangkaunya tidak hanya tergantung pada kendaraan pribadi atau ojek. 
8. Papan penunjuk arah menujju lokasi Candi maupun Situs lebih diperbanyak terutama menjelang persimpangan jalan. 
9. Belum banyak informasi sejarah tentang candi dan situs di lereng Gunung lawu ini. Padahal jika kita ingin orang menyayangi suatu tempat, maka terlebih dahulu orang tersebut harus mengenal tempat tersebut dengan baik. Oleh karena itu saya berharap pihak terkait bisa memberikan indormasi yang lebih banyak lagi melalui berbagaimedia tetang candid an situs-situs di Lereng Gunung Lawu.

*Tulisan ini pernah aku posting di akun kompasiana punyaku pada tanggal 14 Desember 2013 dengan judul yang sama. 
Reaksi:
26

26 komentar:

  1. Mantep tenan reportasenya
    Saya belum pernah post soal candi2
    Akan segera mulai menjelajah candi2 ach
    Terima kasih reportasenya yang ciamik dan komplit
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener itu Pakde ... di JAwa Timur kan ada lebih banyak lagi candi ya de.
      Thanks lho Pakde sudah mampir kemari

      Hapus
  2. Wah, lengkap banget laporannya Mbak. Saya baru pernah ke Borobudur dan Prambanan. Itu pun dulu banget belum ngeblog. Makasih ya dah menyajikan lapanta yang asyik. Salam kenal dan sukses selalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih juga sudah mampir ya mas Belalang Cerewet .... :)

      Hapus
  3. seneng deh bacanyaaa...referensi yang bagus buat kita yang mau mengunjungi tampat-tempat ini..
    satu yang saya suka pengen...buku referensi yang bagus tentang obyek wisata yang kita kunjungi di Indonesia! Well, sebagian ada, seperti Borobudur, misalnya, tapi kebanyakan ndak ada ya..Biasanya, kalau kita jalan ke mana2, pasti ada toko yang jual souvenir, tapi jarang yang menjual buku berisi informasi tentang tempat wisata yang kita datangi, plus foto ciamik tentang tempat wisata tersebut. Kemana pun saya pergi, saya pasti beli 1 :D..buat saya, itu souvenir paling long lasting :D...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget usulannya mak Indah Nuria Savitri ............ komenmu jadi kompor nih .... aku jadi panas pengen bikin buku traveling

      Hapus
  4. Situs candi ini merupakan salah satu situs jejak sisa-sisa kerajaan Majapahit, dan melalui situs ini kita akan banyak tahu masa perlalihan Majapahit dan di lokasi ini sudah banyak bangunan yang hilang di lakukan oleh para oknum. Sayang banget Mba.

    Menenlelusuri jejeka sejarah seni dan budaya sisa-sisa kerajaan Majapahit kita akan banyak mengetahui pesan dan pembelajaran yang tersirat dari setiap relif yang ada di lokasi ini.


    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menelusuri jejak sejarah memang tidak ada habisnya mas Indra ... selalu pengen tahu lebih banyak lagi dan lagi
      Thanks sudah mampir ya mas Indra .... virus jalan-jalanmu memang OK

      Hapus
  5. Menapaki keindahan
    Menelusuri sejarah
    Asyik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. JAlan-jalan memang selalu asyik Kang HAris :)

      Hapus
  6. Wah aku blm nyampe candi2 itu Mbak, baru smp tawangmangu nya aja, kpn2 mo juga ahh ke sana... Thanks Mbak info nya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus dicoba momtraveler ..... thanks ya sudah mampir ke sini

      Hapus
  7. sudah berapa tahun lamanya tak ku jamah lagi kaki gunung Lawu itu,
    terbesit keinginan untuk dapat kembali menjamah kesana....tapi kapan?? | hemmm...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga secepatnya mas ari .... thanks ya sudah mampir ke sini

      Hapus
  8. seru banget ya mbak. aku belum pernah sekalipun melihat candi secara langsung. jadi pingin....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru mbak Liza.... apalagi jalan naik ke atas candi bisa jadi olah raga yang menyenangkan

      Hapus
  9. Banyak juga ya candinya. Aku kesana cuma ke Sarangan & Tawangmangu, nggak ngerti ada candi segala

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan-kapan harus nyoba ke ini mak Lusi ... masih ada wiat air terjun sebenernya

      Hapus
  10. Saya pernah ke Candi Sukuh, naik motor dari Jogja.
    Bagus tempatnya, pemandangannya oke.
    Reportasenya oke mbak. Smg suatu saat saya bisa ke tempat yg lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks mas Akhmad Muhaimin ..... semoga bisa wisata air terjun juga ya ... keren banget tuh naik motor dengan tanjakan yang OK gitu

      Hapus
  11. Wah mba enak sekali menulis sambil jalan -jalan, dan satu lagi bermamfaat sebagai pengayaanku yang nota benenya adalag guru, jadi terinspirasi untuk menulis hal serupa kalau sekali waktu mengunjungi sebuah tempat wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. IYa mbak Atjih ... apalagi kalau tulisan wisata sering juga ada lombanya lho

      Hapus
  12. wah indahnya peninggalan masa lalu dan alam di sana
    jadi bisa turut menikmati dari sini :)

    BalasHapus
  13. benar-benar liburan di candi yang sungguh luar biasa, jalan-jalan diwisata kayak gini nih yang aku impikan tidak hanya duduk manis terus dirumah yah....
    wisata di Gunung lawu memang menjadi salah satu tujuan yang asik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga suatu saat nanti dirimu bisa mampir ke sana mas opick

      Thasnk ya sudah mampir ke sini :)

      Hapus