Sabtu, 02 November 2013

Wonderfull Indonesia - Kuliner Dari Tepian Danau Toba


Sesuai dengan letaknya di tepi Danau Toba, kuliner khas Danau Toba ini didominasi oleh ikan. Ada ikan pora-pora goreng tepung yang renyah. Ikan Mas Arsik yang mempunyai nilai tradisi dan filosofi yang tinggi bagi masyaraat Batak. Juga sushi ala Batak, Naniura. Sebagai sumber karbohidrat, bubur Sitohap bisa jadi pilihan. Begitu juga dengan jus terong Belanda yang menyegarkan. 

Ikan Pora-pora.


Ikan Pora-pora goreng Tepung
Foto dipinjam dari sini 

Ikan ini merupakan ciri khas Danau Toba dan dikenal juga dengan sebutan ikan bilih (Mystacoleucus padangensiskha) . Biasanya ikan ini dijual dalam bentuk segar maupun digoreng tepung. Hidangan yang renyah ini bisa dijadikan camilan atau lauk dan dimakan bersama mayones atau saus pedas manis. Satu porsi ikan pora-pora goreng tepung yang berisi 6 ekor dijual dengan harga Rp 35.000. 

Ikan Mas Arsik.


Ikan MAs Arsik
Foto dipinjam dari sini 
MAsakan ini mempunyai nilai tradisi yang sangat tinggi. Dalam bahasa Batak masakan Ikan Mas Arsik ini juga dikenal dengan nama dekke na niarsik. Selain digunakan untuk hidangan wajib oleh setiap rumah, Ikan Mas Arsik juga digunakan untuk persembahan bagi nenek moyang yang sudah meninggal sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang MAha Esa. 

Karena hidup di air dan tubuhnya panjang maka Ikan mas oleh masyarakat Batak diyakini melambangkan kemurnian hidup dan panjang umur. Dalam setiap acara adat jumlah ikan mas uang di sajikan sebagai Ikan Mas Arsik ini berbeda-beda.

Ikan mas Arsik di olah bersama dengan bumbu-bumbu khas Batak yaitu jeruk nipis, sere, bawang batak, daun singkong, asam gelugur, bunga kecombrang, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, andaliman, kemiri, lengkuas, kunyit, daun salam, daun jeruk juga garam. Dalam memasak Ikan Mas Arsik ini tidak digunakan minyak goreng. Semua bahan dan bumbu hanya direbus dalam kuali berisi air hingga mendidih.

Naniura


Naniura
Foto dipinjam dari sini 
Makanan yang satu ini sering disebut sebagai sushi Batak. Ini karena ikan yang menjadi bahan utama masakan ini tidak perlu dimasak dengan api. Ikan cukup direndam dalam bumbu selama 5 jam. Rasanya memang sedikit ketir di lidah, tapi hidangan ini tidak bisa kita temui di tempat lain. Dulu ikan ini merupakan hidangan para raja, termasuk Sisingamangaraja. Namun sekarang masakan ini boleh dimasak oleh siapa saja, tidak harus koki istana.

Bumbu utama dari masakan ini adalah asam junggra. Asam ini hanya bisa ditemui ditempat penjual bumbu orang Batak. Bumbu lain adalah kemiri bakar, bawang putih, bawang merah, lada, jahe, kunyit serta cabe. Setelah ikan dibersihkan sisiknya, kemudan dibelah menjadi dua. Isi perut ikan dikeluarkan dan ikan dicuci hingga bersih. Setelah itu baru ikan digarami dan dilumuri asam serta bumbu lainnya. Setealh 5 jam baru bisa dinikmati kelezatannya. Untuk menjaga kesegarannya, ikan ini bisa disimpan dalam lemari es.

Jus Terong belanda


Jus Terong Belanda
Foto dipinjam dari sini 
Jika ingin menikmati minuman khas tepian Danau Toba yang menyehatkan, maka jus Terong Belanda ini wajib dicoba. Terong Belanda segar bentuknya bulat telur berwana ungu kemerahan. Rasanya sedikit asam hingga manis. Sebenarnya buah ini bukan buah asli Batak, tapi sudah dikembangkan di tempat ini lama, jadi sekarang banyak dibuat jus ataupun sirup. Buah terong Belanda mengandung antioksidan yang tinggi sehingga bisa mencegah kanker.

Bubur Sitohap


BUbur Sitohap
Foto dipinjam dari sini 
Bubur yang satu ini adalah makanan khas penduduk Silalahi di pinggir Danau Toba. Dinamakan bubur Sitohap karena didalamnya terdapat daun Sitohap. Daun Sitohap tumbuh liar di hutan pegunungan Danau Toba. Biasanya daun ini setelah dipetik kemudian di awetkan dengan cara dikeringkan.

Untuk bisa dinikmati, bubur ini perlu dimasak selama 5 jam. Bahan utama membuat bubur Sitohap adalah beras. Sedangkan bumbu yang ditambahkan adalah bawang merah, bawang putih, jahe, kemiri, juga andaliman yang merupakan bumbu khas orang Batak. Untuk mendapatkan rasa gurih bubur ini seringkali ditambahkan daging ayam.

Cara memakan bubur ini juga cukup unik. Setelah dimasak, bubur Sitohap dimasukkan ke dalam wadah tradisional yang khusus digunakan sebagai wadah bubur. Di tempat asalnya, bahkan ada wadah bubur Sitohap yang usianya sudah mencapai ratusan tahun. Bubur yang masih panas itu kemudian dimakan dengan tangan tanpa menggunakan sendok. Bahkan bubur ini biasa dimakan saat masih panas.


Jika kamu ingin melihat Wonderful Sumatera Utara lainnya bisa lihat di sini:


Video diambil dari sini

Foto-foto dan inspirasi tulisan dari halaman Wonderfull Indonesia,  Danau Toba 

Ingin inspirasi destinasi menakjubkan yang lainnya di Indonesia? Silahkan mampir di Website Indonesia Travel 

Tulisan ini diikutkan dalam Wonderfull Indonesia Blogging Contest
Reaksi:
9

9 komentar:

  1. mmmm ngiler dengan naniura dan bubur sitohap deh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau aku suka ikan pora-pora mbak Ida Nur Laila :)

      Hapus
    2. Pengen jus terong Belanda..belu pernah aku merasakannya... salam kenal dan selamat ngontes ya...

      Hapus
    3. Salam kenal juga mbak Rita Asmaraningsih :)

      Hapus
  2. rasanya kesalahan ngklik linknya mak... belum sarapan dan makan siang masih 1 jaman lagi T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehhehhehe...... sekarang pasti sudah makan siang kan :)

      Hapus
  3. mbak Astri... duuuh ngileeerrrr *lari ke warung padang aja sementara :(

    mbak Rita Asmaraningsih, enak nian jus terong belanda, warnanya ungu dan rasanya asam manis seperti jus anggur tapi wangi

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkkwkkwk..... mana ada bubur sitohap di warung padang mak Tanti Amelia :)

      Hapus
  4. maaf sepertinya itu bukan bubur sitohap
    tapi itu bubur kacang hijau.
    kalau bubur sitohap jarang pakai santan karena aku asli orang silalahi danau toba dan ibu saya dulu pernah jualan sayur sitohap

    BalasHapus