Sabtu, 06 Mei 2017

Menginap di Amaris Jogja


Kembali lagi ke Jogja. Kali ini memilih untuk menginap di daerah Malioboro karena mobil sewaan kami baru akan datang sabtu pagi sementara kami ada rencana pengen nonton wayang kulit di Sonobudoyo malam harinya. Daripada kesulitan nyari taksi atau kendaraan lain karrna kami serombongan berlima, akhirnya pilihan jatuh pada hotel Amaris Malioboro.


Pas nyari nyari hotel di Malioboro pakai aplikasi booking.com ternyata harganya lumayan tinggi ya untuk hari jumat. Maklumlah weekend. Tapi memang kebetulan kali ini bersamaan dengan liburan di luar negeri. Jadi boleh dibilang ini lagi high season. Sementara itu di Indonesia sendiri kan sedang libur anak sekolah yang kelasnya dipakai si kakak kelas buat berbagai ujian kelulusan sekolah.


Satu kamar standar di Amaris Malioboro bisa aku dapat dengan harga 475.000 per kamar. Aku pesan tiga kamar. Satu double bed dan dua kamar twin share. Yang double bed buat aku dong dan yang dua kamar lainnya buat keempat temanku.  Itu pesennya sudah seminggu yang lalu, tapi pas dua hari setelah itu mau pesan lagi karena si Jepang yang satu pengennya kamar sendiri, tapi ternyata sudah full. Gila ya hotel di Malioboro laris manis .


Hotel ini adanya di jalan Pajeksan, jadi semacam gang nya lah di Malioboro. Memang gak di jalan raya Malioboronya pas. Tapi ini tinggal selangkah ke Malioboro. Bangunan depannya adalah bangunan tua seperti rumah Cina jaman dulu. Bangunan belakang sepertinya baru adsa sekitar 8 tingkat mungkin ya. Aku bilang mungkin karena aku dapat kamar di lantai 6 dan di atasnya lagi masih ada kamar. Tapi pas di lift aku gak ngamati juga ada berapa lantai tepatnya. 


Karena saat ini penuh jadi satu kamar cuma kebagian satu kunci. Biasanya kan kalau nginep dikasih kunci satu aku suka minta tambahan kunci lagi kalau satu kamarnya ada dua orang. Tapi kali ini pihak hotel gak bisa ngasih dengan aasan ya itu tadi full gak ada stock kunci lebih. 


Setelah terima kunci masuk kamar . seperti standar Amaris di kota lain, kamar Amaria Malioboro ini juga kecil. Tapi ya kalau buat traveller ini cukup lah. Toh cuma butuh untuk tidur beristirahat seelah seharian jalan. Ada TV flat yang tergantung di di tembok, cuma ada channel TV nasional aja deh kayaknya karena bolak balik ganti channel gak nemu stasiun TV luar negeri. Tapi entahlah, karena remote TV nya juga agak error. Bisanya cuma mencet nomer aja gak bisa berfungsi tombol panahnya buat pindah cepat. Sementara di meja juga gak ada daftar channel.


Lupkanlah soal TV. Karena sudah terlambat sampai Jogja dan kita sudah lelah terkatung katung di angkasa dengan sport jantung selama dua jam, akhirnya memilih untuk pesan makanan di dalam hotel saja. Tapi nyatanya room service sudah close jam 8 .30 malam ini. 


Ya sudahlah. Untungnya ada banyak pilihan makanan tepat di depan hotel. Ada sate kambing bu gendut yang juga menyediakan tengkleng dan sate ayam. Ada nasi goreng ala kaki lima. Cuma karena aku bawa 3 tamu Jepang akhirny pilihan jatuh pada Rumah Makan Chinese Food yamg ada sekitar 30 meter di depan hotel. Dan kami adalah tamu terahir. Pas si mas waiter ngasih tahu ini adalah last order aku bilang, Alhamdulillah masih bisa dibuka untuk kami. 


Setelah kenyang makan , saatnya kembali ke hotel. Mandi dan tidur. Paginya bangun dan Sarapan. Ada banyak pilihan makanan untuk sarapan pagi ini. Ada nasi goreng, mie goreng , ayam masak entahlah , sayur sawi dan tempe goreng. Ada juga bubur dan roti panggang dengan selai. Minumnya ada jus nanas, es teh mnis, teh dan kopi juga air jahe. Ada buah juga dan camilan seperti ubi dan tape goreng serta pisang dan kacang rebus. 

Setelah sarapan saatnya check out. Dan kami pun akan melanjutkan perjalanan selanjutnya. This is not best hotel for me, but recomended for traveller. 
0

Drama di Angkasa Ketika Cuaca Buruk Tiba


Thanks God
Akhirnya bisa mendarat dengan selamat
Setelah drama diangkasa selama dua jam
Berasa terbang Jakarta Makasar bukan Jakarta Jogja
Perasaan sudah puluhan kali terbang ya
Tapi gue rasa ini penerbangan gue yang paling horor

Bukan sekali ini juga terbang dalam cuaca buruk .Dulu pernah kok waktu ke Padang dari mulai take off sampai landing itu yang namanya lampu tanda mengenakan seat belt dinyalakan karena perjalanan di udara seolah seperti melalui jalan berbatu. Cuaca buruk memang seringkali pesawat melewati awan hitam yang rasanya seperti melewati jalan berbatu kalau di darat.
Sama kaya sekarang , cuma bedanya kalau sekarang plus ibarat mendaki gunung menuruni lembah dengan kecepatan tinggi 

.
Can you imagine?
Mungkin ini kali ya yang disebut dengan turbulensi, di mana pesawat kaya ketarik gitu ke bawah dan kemudian kembali naik ke atas lagi. Rasanya itu seperti naik roler coaster gitu tapi gak pake adegan berputar sih memang.

Seandainya di langit ada halte sumpah gue pengen turun di halte itu dan melanjutkan penerbangan setelah cuaca bagus. Sayangnya di angkasa gak ada halte ya. Tapi mungkin di masa depan perlu dipikirkan tuh halte di angkasa yang bisa buat parkir pesawat sejenak sampai cuaca bagus.

Jadi kalau sekarang yang ada cuma bisa memejamkan mata dan banyak banyakin doa. Ya iyalah mau gimana lagi? Dan berharap waktu cepat berlalu.Setelah ada pemberitahuan mau landing sedikit lega, apalagi sudah terlihat lampu kota, walaupun awan di atas sana masih terasa seperti jalan berbatu.


Nyatanya drama belum selesai karena pilot memberitahukan bahwa pesawat harus berputar di atas kota Yogja menunggu giliran landing selama tiga puluh menit ke depan. Katanya sih landasan dipakai bergantian dengan pesawat lain.
What????
Can you imagine berputar di udara dalam cuaca buruk?
Hadewwww, ya sudahlah dinikmati saja. Perjalanan yang seharusnya 1 jam 10 menit itu jadi 2 jam.  Dan setelah itu akhirnya toh mendarat juga di Bandara Adisucipto Jogjakarta.
0

Selasa, 15 November 2016

Perjalanan Horor Menuju Lembah Bada


Tahukah kamu di mana Lembah Bada itu?

Pertama kalinya mendengar nama Lembah Bada adalah dari Mbak Ari, Pengelola Museum Tekstil Jakarta yang menawari saya untuk ikut dalam ekspedisi Profesor Sakamoto. Sebelum jalan, mbak Ari bilang kalau jalan yang akan ditempuh itu sangat buruk, apalagi kalau hujan deras. Perjalanan ke sana juga akan menjadi perjalanan panjang dan melelahkan. Penginapan di sana juga ala kadarnya.

Pokoknya cerita awal tentang Lembah Bada itu horor banget lah. Ada mistis segala. Dan sepertinya bukan merupakan tempat yang cocok untuk berwisata. Belum lagi kalau melihat posisi Lembah Bada itu adanya di Kabupaten Poso yang terkenal dengan konflik sara nya itu. Ditambah lagi dengan Gunung Biru yang berada tidak jauh dari Lembah Bada yang kini menjadi terkenal karena merupakan persembunyian teroris.

Tapi semua cerita horor itu justru membuat aku menjadi penasaran. Apalagi ketika mencari cerita tentang Lembah Bada lewat internet, tidak banyak info yang aku temukan. Itu artinya, belum banyak traveler yang datang ke Lembah Bada. Yang banyak aku temukan adalah tulisan tentang Megalitikum terbesar yaitu Patung Sepe.
Museum Negeri Palu 
Singkat cerita tanpa berbekal informasi tempat tujuan yang banyak, aku dan tim pun akhirnya berangkat ke Palu dengan penerbangan pertama yaitu jam 5 pagi. DI Palu kami akan diantar dua ahli sejarah, Mas Iksham  dari Museum Negeri Palu dan Mas Rim Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Tengah.


Sesampainya di Palu sekitar pukul 9 pagi WITA kami sarapan dulu dong, di tepi Pantai Talise dengan menu khas Palu. Ada duo Sole tapi tanpa sayur kelor, karena kami datang terlalu pagi dan sayurnya belum siap. Harga di restoran ini lumayan murah. Kami makan berdelapan hanya habis sekitar Rp 250 ribuan.



Perjalanan pun dilanjutkan dengan mampir sebentar ke Museum Negeri Palu untuk melihat baju-baju dari kulit kayu. Sekaligus kami beristirahat sebentar menunggu jalan menuju Poso di buka. Ini karena jalannya sedang dalam perbaikan, jadi diberlakukan buka tutup. Jadi jalan baru akan dibuka pada jam 12 - 14 ketika para pekerja beristirahat. Setelah itu ditutp dan baru dibuka kembali pada jam 18.00 ketika para pekerja sudah selesai bekerja.

Duo Sale 
Sebelum melanjutkan perjalanan, perlu bagi kami untuk mampir ke mini market membeli air mineral dll. Tapi kami memilih membeli camilan di toko kue yang lumayan lengkap dan ramai di Palu. Ii penting karena perjalanan kami memakan waktu sekitar 6-7 jam menuju Tentena.

Ketika melewati daerah Kebon Kopi, kami melewati sebuah tempat yang dikenal dengan nama Uwentira. Tempat ini lebih dikenal sebagai negerinya para Jin. Konon ceritanya seringkali ada orang-orang yang lewat sini melihat ada kota ramai. Cerita tentang betapa horornya Uwentira ini akan aku ceritakan di postingan berikutnya ya.

Uwentira 

Perjalanan menuju Tentena menyusuri pantai dan melewati kampung Bali di Kabupaten Sigi Montong. Hingga akhirnya kami tiba di Tentena pada malam hari dan menginap di sebuah penginapan yang berada tepat di tepi danau Poso. Harga penginapan di sini sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu. Tergantung kamar yang kita inginkan. Sayangnya air yang ada di sini diambil dari danau Poso, jadi jangan heran kalau warnanya coklat dan terlihat kotor.


Keesokan harinya setelah sarapan kami mlanjutkan perjalanan menuju Lembah Bada. Oh ya, kalau kalian mampir di Tentena, jangan lupa mencoba ikan Sugili ya. Ini adalah sejenis belut yang besar. Tapi memang gak semua restoran atau penginapan menyiapkan ikan Sugili ini. Beruntunglah kami bisa mencicipi ikan Sugili goreng tepung dengan harga satu porsi Rp 35.000. Satu porsi ikan Sugili ini banyak lho. Jadi bisa dimakan berdua bahkan bertiga.

Ikan Sugili Goreng Tepung
Di Tepi Danau Poso 
Perjalanan dari Tentna menuju Lembah Bada ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 30 menit. Tapi berhubung kami agak-agak norak jadilah waktu tempuh sedikit lama, karena sesekali kami berhenti dan memotret.Jalan yang dilalui cukup bagus, tdak seperti yang diceritakan oleh Mbak Ari diawal.


Kini jalan menuju Lembah Bada sudah diaspal. Tapi memang di kiri kanan kami cukup menyeramkan, ada jurang yang dalam dan kemungkinan tebing batu yang longsor bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Belum lagi jalan yang masih rapuh, jadi, kalau kekuatan kendaraan beratnya berlebihan, bisa saja tanah ditepi jalan berguguran.

Jembatan Malei Sungai Merah 
Dan tahukah kalian kalau di jalan berliku itu ada banyak truk yang lalu lalang membawa bahan pembangunan jalan. Jadi perjalanan menuju Lembah Bada memang harus dipenuhi dengan zikir dan doa-doa keselamatan.

Di tengah perjalanan kami melewati anak sungai Lariang, yaitu sungai terpanjang di Sulawesi yang hulunya adalah di daerah Lore Lindu. Sungai ini airnya berwarna merah, jadi dikenal dengan nama sungai merah. Jembatan yang kami lalui bernama Jembatan Malei yang diresmikan pada tahun 2006.


Kami juga melalui hutan di mana di sana ada bekas-bekas kebakaran hutan tahun lalu. Sayang sekali memang kalau dilihat betapa luasnya kebakaran hutan tersebut. Tapi pohon yang terbakar gak ditebang kok. Bahkan ada yang masih bertunas juga.

Hingga akhirnya kamipun sampai di Lembah Bada. Sebuah perkampungan yang asri dan tertata rapi. Mau tahu apa yang kami lakukan di sini? Dan apa saja yang ada di Lembah Bada ini? Tunggu tulisan berikutnya ya.

Tapi kalau penasaran, bisa ngintip dulu di tayangan video ini ya :

3

Rabu, 10 Februari 2016

Jalan-jalan ke Bukit Siguntang


Beberapa waktu yang lalu aku sedang menyusun sebuah tulisan sastra Melayu. Salah satu bahannya adalah buku "Hang Tuah" yang susah sekali mencari pustakanya. Namun akhirnya aku mendapatkan juga sebuah buku yang judulnya adalah "Hang Tuah".

Tapi ketika di baca di dalamnya hanya sedikit sekali cerita tentang kehidupan Hang Tuah. Cerita besarnya justru tentang sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang Raja yang merupakan putra dari Raja Langit. Negeri ini berada di Bukit Siguntang. 

4

Rabu, 03 Februari 2016

Mau Bertanya Irit Budget Piknik


Yang namanya tukang piknik atau bahasa kerennya "traveler" itu memang paling suka sama info diskon pesawat apalagi hotel. Sampai setiap kali mau jalan buka-buka websitenya jasa layanan wisata untuk membandingkan harga hotel dan pesawat. Sayangnya itu baru aku lakukan akhir-akhir ini saja, sebelumnya gak begitu ceritanya. Hingga akhirnya aku percaya pada pepatah bahwa :
Malu Bertanya Akan Sesat Di Jalan
Dulu waktu masih gaptek alias gagap teknologi alias gak update info internet, aku pernah ada tugas dadakan ke Bandung. Jadi aku belum booking hotel dan ini untuk pertama kalinya pergi ke Bandung menginap. Saking paniknya aku nelpon dan minta salah satu staf di kantor Bandung untuk mencarikan hotel.

6